Ayah oh…… ayah

20 02 2009

By indocerita | September 26, 2007

Aku masih teringat betul ketika aku masih kecil ayah selalu yang mengurusku,
walau ayah sebetulnya hanyalah ayahku tiri, tetapi sayangnya kepadaku betul2
melebihi ayah sendiri.
Dari umur 7 bulan aku diurusnya, dimandikan, disuapin pokoknya diurus selayaknya
seorang ibu mengurus anaknya, ini disebabkan mama-ku bekerja dikantor dan ayah
berwiraswasta.
Yang aku ingat betul kalau tidur aku selalu minta dikeloni ayah, hal itu sampai
aku umur 12 tahun, bila ayah tidur aku didekapnya dan pada umurku yang ke 9 tahun
aku merasakan didekap dan disayang sebab mem*kku selalu dielus-elus ayah.
Sewaktu aku umur 11 tahun dan aku duduk dikelas 6 SD, aku minta diajari ayah matematika
dan ayah selalu mengajariku, tetapi pada malam itu ayah memegangi mem*kku dan rasanya
betul2 enak sekali, aku betul merasakan nikmat sampai keluar cairan dari mem*kku
sehingga membasahi celana dalamku bahkan sampai kepahaku, dengan sayangnya ayah
menyekanya dengan sapu tangannya lalu saya disuruhnya istirahat tidur.
Bangun pagi kepalaku pusing dan berat, sampai aku membolos sekolas, aku betul2 merasakan
sesuatu yang belum pernah aku rasakan semalam.
Semenjak itu aku semakin dekat dengan ayah dan mersa lebih menyayanginya, bahkan aku
belum tidur sebelum ayahku mengajakku tidur.
Pada suatu saat seperti biasanya aku diajak berenang aloe ayah dan aku masih taraf belajar
aku diajari ayah berenang tetapi ayah saya minta memegang pahaku dan seperti biasa ayah
memegang mem*kku, hal tersebut aku nikmati, jadi bukan belajar renang tetapi aku betul2
menikmati rabaan ayahku.
Selesai berenang aku diajak ayah kekamar ganti pakaian, aku telanjang bugil (maklum anak
kecil), ayah lalu mengelap badanku dengan handuk, seluruh badan dilap sampai kering dan tiba2
aku disuruh duduk dibangku, kakiku dibuka ayah mem*kku diraba aduh enaknya dan cairan mulai
keluar dari mem*kku, lalu ayah jongkok dijilatinya mem*kku, aaaccchhhhh…..aaaaacchhhhh..
aku merasakan lebih enak, yang akhirnya badanku terasa seperti melayang sampai2 aku dekap
kepala yahku, aaacchhhh, ayaaaahhhh.
Sewaktu aku mulai masuk SMP aku kalu berangkat bersama-sama ayah, sebab arahnya satu jalan
kearah tempat kerja ayahku, setiap pagi aku betul2 senang sebab sambil menyetir mobil tangan
ayah selalu mengelus-elus pahaku, addduuuuhhhh betul2 enak.
Pada umurku yang ke 14 kebetulan mama-ku pergi keluar kota menengok saudaranya yang baru beli
rumah, aku berdua dengan ayah dirumah.
Waktu malam hujan turun deras sekali dan aku merasa takut lalu aku minta ayah menemaniku tidur
dikamarku, wah aku betul2 merasa aman dalam dekapan ayahku, sampai aku tertidur pulas, aku mera-
sakan mem*kku ada yang mengelus, betul2 enak dengan rambut mem*kku yang masih baru numbuh tipis
aku terbangun tetapi diam saja sebab aku tahu ayahlah yang meraba.
Semakin lama semakin enak, sampai2 cairan dimem*kku keluar aduh aku betul2 tersiksa rasanya, aku
beranikan diriku aku raba kont*l ayahku, aduh aku kaget betul2 besar sekali, baru sekali inilah
aku megang kont*l.
Dengan sabar bajuku dibuka ayah (sebab kalau tidur aku tidak pernah pakai BH, walaupun tetekku masih
kecil) setelah terbuka leherku mulai dicium ayah dan aku betul2 terangsang, tahu2 tetekku diciumnya
aduh enaknya eeehhh malah dihisap aduh maakkk!! aku tak tahan, tanpa aku sadari keluar suara dari
mulutku aaaaccchh, uuugghhh, aaaaacccchhhh.
Rupanya ayahku jauh berpengalaman, di tariknya CD ku pelan2 dan setelah terbuka sampai aku betul2 bugil
pelan2 dari toket yang dicium turun ke perut terus ke paha teruusss pelan2 dibukanya kakiku yang kecil
dengan sayang dijilatinya mem*kku, aku tarik rambut ayah saking enaknya dan ayah pun tahu aku mulai
merasakan lalu posisinya dirubah kakiku dikangkangkan dan pelan2 kepala kont*lnya digosok-gosokkan
dibibir mem*kku aduuuuuhhhh aaaayyyaaaaahhhhh, rintihanku dan pelan2 ditekannya kont*l ayah kelubang
mem*kku aduh sakit rasanya, lalu digosokkan lagi setelah aku terangsang lalu ditekannya lagi, lama2
sssrrrreettt kepala kont*l ayah masuk, sakit ayah rintihku dan ayah mencabutnya lagi lalu digosok-gosok
lagi sampai aku terangsang lagi dan ditekannya lagi, ber-kali2 hal tersebut dilakukan ayah, lama2 aku betul2
merasakan enak yang selama ini belum pernah aku rasakan, yang akhirnya aku menggelinjang dan kupeluk ayah
aaaayyyyyaaaahhhhh, uuuggghhh, aaayyyyaaahhh, aaaaccchhhh aaayyyaaahhh eeeennnaaaak!!!!! dan terasa hangat
didalam mem*kku, rupanya semprotan air mani ayah.
Aku terasa ngantuk sekali, lama kont*l ayah didalam mem*kku setelah mengecil baru ayah cabut dan dijilatinya
mem*kku, sampai aku terangsang lagi aduh ayah Devie minta lagi, pintaku , ayahpun melayaniku lagi, aduh enak
ayah, sampai2 aku tertidur dalam entotan ayahku.
Pagi aku bangun pakaianku sudah terpakai dibadan, rupanya ayah semalam yang mengenakannya dan ayah sudah membuat-
kan minum hangat untukku serta sarapan pagi, kebetulan hari itu hari minggu, setelah minum dan makan aku ajak
ayahku sayang tidur lagi dan terjadi lagi seperti semalam.
Jadi selam mama pergi kami selalu melakukan dengan ayah, demikian juga setelah mama pulang kami masih sering
sembunyi2 melakukan.
Sekarang aku sudah 16 tahu dan kelas 2 SMU akan naik ke kelas 3, masih aku sering minta ayah melakukan itu untukku
dan ayah tidak pernah menolaknya.
Terima kasih ayah ku sayang, engkau telah membesarkanku dan engkau pulalah yang mendewasakan ku, aku sulit me-
lupakan.





ARISAN IBU-IBU

20 02 2009

By Hacker| 20 Februari 2009

Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai
dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini
aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau
Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki-
laki belasan tahun. Rasany aku kurang percaya. Ap ia? Bu Wira yang
sudah berusia lebih 50 tahunmasih doyan laki-laki belasan tahun?

“Woalaaah…Bu Tuty masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi.
Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann
istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, keculi Julius putra tunggalku
harus bersamaku dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi
milikku. Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkawinan
suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak
peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim.
Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam usia
37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.

“Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh,”
kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika
aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra
tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau
mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12
hari lagi.

Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan
secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku.
Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira
sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu.
Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra
tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karean malu ribut-
ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.

“Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin
perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya
hilang,” kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan
celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas denga dua informasi itu. Aku
bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks
perumahan …..(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan,
kalau itu soal biasa sekarang ini.
Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Julius. Julius
mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah
menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan
putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus
burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah
Tante Wira.

Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius
menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu
sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan
tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama.

Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan
menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu?
Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan?
Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng
seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun,
tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila
juga pikirku.

Rasa takutku marah-marah kepada Bu Wira, karean aku juga mungkin
pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu
akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku
harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.

Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu
keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah-
majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku
menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang
terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal
ini.

Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.

“Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus
jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD
porno itu,” kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang
dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

“Mama marah?” dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak
awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan
jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar
semuanya terbuka.

“Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaku.
“Maksud mami?”
“Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaku lagi.
Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum
berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan-
kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku
langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku
menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan HIV-AIDS. Jika
sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

“Teman-teman Julius, kok enggak kena HIV, MI? Padahal menurut
mereka, merekaitu sudah berkali-kali melakukannya?’ kata putraku
pula. Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal
sedemikian, batinku.
“Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati
gantung diri,” ancamku.
“Tapi Mi?”
“Tapi apa?”
“Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana
dong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti
belum laki-laki dewasa, Mi?” putraku merengek dan sangat terbuka.
Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh
kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan
dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar,
bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.

Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku
memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata
wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

“Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku.
“Iya Mi,” katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku.
Yah…malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji,
tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK, kataku tegas.
“Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?”
“Tony? Siapa Tony?” tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan
dirinya dengan Tony. Menurut cerita Julius putraku, Tony juga
dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau
Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman
sekelasnya. Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan
persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak
hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

“Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami
tidak akan hamil,” kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius
tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan
putra begitu mengebu-gebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD
Porno dan majalah porno pikirku. AKu secepatnya ke kamar mandi
mencuci paginaku dan membuka BH dan CD ku. AKu memakai daster miniku
yang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan
menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aku ingin, putraku
mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau
tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea
nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang
kuat. Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami
puberitas.
Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar.
Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti
biasanya.

“Kamu sudah siap sayang,” kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia.
Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua
melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat
putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum
pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku
duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela
kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara.
Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat
terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. dia
mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu
menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku
mulai memagang kepalaku. Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal
pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya
bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke
tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia
mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya
terasa semakin keras pada rambut paginaku. Dengan cepat pula,
kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati
sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di
pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada
burung itu.

“Mami…geli,” putraku mendesah.
“Tapi enakkan, wayang,” tanyaku.
“Enak sekali Mi,” katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya.
Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya
menjepit kepalaku dan…croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar.
Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak
tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.

Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai
pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit
kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas.
Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring
berdua di tempat tidur.

“Enak sayang?” tanyaku. Dia menagngguk.
“Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung
Julius masuk ke lubang mem*k Mami,” katanya polos. Aku menganguk.
Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh
memasukkannya ke lubang Mami, kataku.
“Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?” dia mendesak.
Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya.
Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini
dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan
lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus-
elus. Sebentar saja burung itu bangkit.

“Naiki Mami, sayang,” kataku. Dia naik ke tubuhku.
“Masukkan,” pintaku. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya
dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaku,
kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk,
karean paginaku sudah basah. Aku memang sudah sangat lama merindukan
ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun
perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia
pindah) aku tak pernah lagi selingkuh.
Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang
paginaku. KUkangkangkan kedua kakiku. Aku membiarkan burung itu
tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku
sudah mulai menarik-cucuk burungnya. Aku biarkan saja, walaupun
sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan,
aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku
hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku. Sambil memompa
burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku.
Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali
aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun,
masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku
orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah
orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal
kembali.

“Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami,
sayang,” pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku
masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas
permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku
bangkit. Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari
bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan
mencucuk burungnya ke dalam liang paginaku. Aku mendengar, suara
begitu becek pada paginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku
sudah tidak merawat lagi paginaku. Tapi dia semakin semangat
mengocokkan burungnya.

“Mami…aku sudah mau keluar nih…” katanya. Saat itu aku juga
sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu
sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali.
Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku.
Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama
permainan ini, pikirku.

Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan
ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis,
sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku
bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepdanya.
Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk
kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah
berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun
behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang
terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK
dan tante giang.

Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia
lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan
sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi
mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan
ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.
Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidak
serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan
tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan
kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor.
Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan
manja itu.

Kini putraku sudah SMA, AKu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku
masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku
juga melakukan hubungan seks yang sangat terataur.





Aku & Mertua

20 02 2009

By Hacker | 20 februari 2009

Ini adalah salah satu pengalaman nyata dari kehidupan sex-ku selama ini. Aku Roy, 32 tahun. Menikah, punya 2 anak. Istriku sangat cantik. Banyak yang bilang mirip bintang sinetron ternama saat ini. Kami tinggal di Bandung. Yang akan aku ceritakan adalah hubunganku dengan mertua aku sendiri.
Mertua aku tinggal di kota P, masih wilayah Jawa Barat. Suatu waktu aku ada tugas kerja ke kota P tersebut. Aku pergi naik motor. Sesampainya di kota P, aku langsung menyelesaikan tugas dari kantor. Setelah selesai, aku sengaja singgah dulu ke rumah mertua untuk istirahat. Sesampai di rumah, mertua perempuanku datang menyambut.

“Kok sendirian Roy? Mana anak istrimu?” tanya mertuaku.
“Saya ada tugas kantor disini, Ma. Jadi mereka tidak saya ajak. Lagian saya cuma sebentar kok, Ma. Hanya mau numpang mandi dan istirahat sebentar,” jawabku.
“O begitu.. Akan mama siapkan makanan buat kamu,” ujar mertuaku.

Lalu aku mandi. Setelah itu aku segera ke meja makan karena sudah sangat lapar.

“Papa mana, Ma?” tanyaku.
“Papa lagi ke rumah temannya ngurusin obyekan,” jawan mertuaku.
“Kamu mau pulang jam berapa, Roy?” tanya mertuaku.
“Agak sorean, Ma. Saya akan tidur sebentar. Badan pegal hampir 3 jam naik motor dari Bandung,” kataku.
“Kalau begitu ganti baju dulu dong. Nanti kusut kemeja kamu,” ujar mertuaku sambil bangkit menuju kamarnya. Lalu dia datang lagi membawa kaos dan kain sarung.
“Ini punya Papa, pakailah nanti,” kata mertuaku.
“Iya, Ma,” kataku sambil terus melanjutkan makan.

Mertuaku berumur 42 tahun. Sangat cantik mirip istriku. Badan ramping, buah dada besar walau agak turun karena usia. Pantatnya sangat padat. Setelah berganti pakaian, aku duduk di ruang tamu sambil nonton TV.

“Loh katanya mau tidur?” tanya mertuaku sambil duduk di kursi yang sama tapi agak berjauhan.
“Sebentar lagi. Ma. Masih kenyang,” ujarku. Lalu kami nonton TV tanpa banyak bicara.
“Tahukah kamu, Roy.. Bahwa mama sangat senang dengan kamu?” tanya mertuaku kepadaku memecah kesunyian.
“Kenapa, Ma?” tanyaku.
“Dulu sejak pertama kali datang kesini mengantar istrimu pulang, mama langsung suka kamu. Ganteng, tinggi, sopan, dan ramah,” kata mertuaku. Aku hanya tersenyum.
“Sekarang kamu sudah menikahi anak mama dan sudah punya anak 2, tapi kamu tetap sama seperti yang dulu..,” kata mertuaku lagi.
“Mama sangat sayang kamu, Roy,” kata mertuaku lagi.
“Saya juga sayang mama,” ujarku.
“Ada satu hal yang ingin mama lakukan, tapi tidak pernah berani karena takut jadi masalah..,” kata mertuaku.
“Apa itu, Ma?” kataku.
“Mama ingin memeluk kamu walau sebentar..,” ujar mertuaku sambil menatapku dengan mata sejuk.
“Kenapa begitu, Ma?” tanyaku lagi.
“Karena dulu mama sangat suka kamu. Sekarang ditambah lagi rasa sayang,” kata mertuaku.

Aku tatap mata mertuaku. Kemudian aku tersenyum.

“Saya yang akan peluk mama sebagai rasa sayang saya ke mama,” ujarku sambil beringsut mendekati mertuaku sampai badan kami bersentuhan.

Kemudian aku peluk mertuaku erat. Mertuakupun balas memeluk aku dengan erat sepertinya tidak mau melepas lagi.

“Boleh mama cium kamu Roy? Sebagai tanda sayang?” tanya mertuaku.

Aku agak kaget. Aku lepaskan pelukanku, lalu tersenyum dan mengangguk. Mertuaku tersenyum, lalu mencium pipi kiri, pipi kanan, kening. Lalu.. Mertuaku menatap mataku sesaat kemudian mengecup bibirku. Aku sangat kaget. Tapi aku tetap diam, dan ada sedikit rasa senang akan hal itu. Selang beberapa detik mertuaku kembali mengecup bibirku.. Dan melumatnya sambil merangkulkan tangannya ke pundakku. Secara spontan aku membalas ciuman mertuaku. Kami saling hisap, mainkan lidah.. Nafas mertuaku terdengar agak cepat. Tangan mertuaku masuk ke dalam kain sarung, lalu menyentuh kont*lku dari luar CD. Tangannya lalu mengusap pelan lalu mulai meremas kont*lku. kont*lku langsung tegang.

Tiba-tiba.. Kringg! Krinngg! Bunyi telepon mengagetkan kami. Kami langsung memisahkan diri. Mertuaku langsung bangkit menuju telepon. Entah apa yang dibicarakan. Karena merasa agak bersalah, aku segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu merebahkan diri di kasur. Terbayang terus peristiwa tadi berciuman dengan mama mertua sambil merasakan nikmatnya diremas kont*l. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Kemudian pintu terbuka. Mertuaku masuk.

“Sudah mau tidur, Roy?” tanya mertuaku.
“Belum, Ma,” ujarku sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Mertuaku juga ikut duduk di sampingku.
“Kamu marah tidak atas kejadian tadi,” tanya mertuaku sambil menatap mataku. Aku tersenyum.
“Tidak, Ma. Justru saya senang karena ternyata mama sangat sayang dengan saya,” jawabku.

Mertuaku tersenyum lalu memegang tanganku.

“Sebetulnya dari dulu mama memimpikan hal seperti ini, Roy,” ujar mertuaku.
“Tapi karena istrimu dan papamu selalu ada, ya mama hanya bisa menahan perasaan saja..,” ujar mertuaku sambil mencium bibirku.

Akupun segera mebalas ciumannya. Dan sekarang aku mulai berani. Tanganku mulai meraba buah dada mertuaku dari luar dasternya. Aku meremasnya perlahanan. Tangan mertuakupun segera melepas kain sarung yang aku pakai. Tangannya langsung meraba dan meremas kont*lku dari luar CD-ku. kont*lku makin mengeras. Mertuaku merogoh kont*lku hingga berdiri tegak. Sambil tetap berciuman tangannya terus mengocok dan meremas kont*lku. Akupun terus meremas buah dada mertuaku. Tak lama, mertuaku bangkit lalu melucuti semua pakaiannya. Akupun melakukan hal yang sama. Mertuaku segera naik ke tempat tidur, dan aku segera menaiki tubuhnya. Aku kecup bibirnya.

“Mama senang kamu datang hari ini, Roy.. Lebih senang lagi karena ternyata kamu bisa menerima rasa sayang mama kepada kamu…” ujar mertuaku sambil menciumku.

“Saya juga senang karena mama sangat menyayangi saya. Saua akan menyayangi mama…” kataku sambil memagut leher mertuaku.

Mertuaku mendesah dan menggelinjang merasakan desiran nikmat. Pagutanku kemudian turun ke buahdada mertuaku. Kujilati dan gigit-gigit kecil puting susu mertuaku sambil tangan yang satu meremas buah dada yang lain.

“Ohh.. Mmhh.. Mmhh.. Ohh…” desah mertuaku semakin merangsang gairahku.

Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut, tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku.

“Jangan ke bawah, Roy.. Mama malu. Segera masukkin saja.. Mama sudah tidak tahan…” ujar mertuaku.

Aku tersenyum dan maklum karena mertuaku termasuk orang yang konvensional dalam masalah sex. Aku buka lebar paha mertuaku, lalu aku arahkan kont*lku ke mem*k mertua yang sudah basah dan licin. Tangan mertuaku segera memegang kont*lku lalu mengarahkannya ke lubang mem*knya. Tak lama.. Bless.. kont*lku langsung memompa mem*k mertuaku. Terasa tidak seret, tapi masih enak rasanya menjepit kont*lku..

“Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…” desah mertuku ketika aku memompa kont*lku agak cepat.

Mertuaku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama, tiba-tiba mertuaku bergetar lalu tubuhnya agak mengejang.

“Oh, Roy.. Mama mau keluarr.. Mmhh…” jerit kecil mertuaku.
“Terus setubuhi mama…” desahnya lagi.

Beberapa saat kemudian tubuh mertuaku melemas. Dia telah mencapai orgasme.. Akupun berhenti sejenak memompa kont*lku tanpa mencabutnya dari mem*k mertuaku. mem*knya terasa makin licin oleh air maninya.

“Mama belum pernah merasakan nikmat seperti ini, Roy,” ujar mertuaku sambil mengecup bibirku.
“Terima kasih, Roy…” ujarnya lagi sambil tersenyum. Akupun segera mengerakan kont*lku menyetubuhi lagi mertuaku.
“Boleh Roy minta sesuatu, Ma?” tanyaku sambil terus memompa kont*lku.
“Apa?” ujar mertuaku.
“Saya mau setubuhi mama dari belakang. Boleh?” tanyaku. Mertuaku tersenyum.
“Boleh tapi mama tidak mau nungging. Mama tengkurap saja ya?” ujar mertuaku.
“Iya, Ma,” ujarku sambil mencabut kont*lku. Mertuaku segera tengkurap sambil sedikit melebarkan kakinya.
“Ayo, Roy,” ujar mertuaku.

Aku segera masukkan kont*lku ke mem*k mertuaku dari belakang. Terasa lebih nikmat daripada masuk lewat depan. Mata mertuaku terpejam, dan sesekali terdengar desahannya. Akupun terus menikmati rasa nikmat sambil terus memompa kont*lku. Kemudian terasa ada sesuatu rasa yang sangat kuat ingin keluar dari kont*lku. Kupercepat gerakanku menyetubuhi mertuaku. Ketika hampir mencapai klimaks, aku cabut kont*lku, lalu.. Crott! Crott..! Crott! Air maniku keluar banyak di punggung dan pantat mertuaku.

“Ohh.. Enak, Ma…” kataku.
Kugesekkan kont*lku ke belahan pantat mertuaku. Selang beberapa menit setelah kelelahan agak hilang, mertuaku berkata, ” Tolong bersihkan punggung mama, Roy..”.
“Iya, Ma,” ujarku. Lalu aku bersihkan air maniku di tubuh mertuaku.

Setelah berpakaian, lalu kami keluar kamar. Terlihat wajah mertuaku sangat ceria. Menjelang sore, mertua lelaki pulang. Aku dan mertua perempuanku bertindak biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.

Setelah makan malam, aku diminta mertua perempuanku utnuk membawakan semua piring kotor ke dapur. Aku menurut. Mertua lelaki aku setelah makan malam langsung menuju ruang televisi dan segera menonton acara kesukaannya. Di dapur, mertuaku perempuanku langsung menarik tanganku ke sudut dapur lalu menciumku. Aku membalasnya sambil tanganku langsung memegang selangkangannya kemudian meraba mem*knya.

“Nakal kamu. Tapi mama suka,” ujar mertuaku sambil tersenyum.
“Nanti Papa kesini, Ma.. Udah, ah Roy takut,” ujarku.
“Tidak akan kesini kok, Roy,” ujarnya.
“Sebelum kamu pulang, mama mau sekali lagi bersetubuh dengan kamu disini…” ujar mertuaku sambil tangannya segera meremas kont*lku dari luar celana.
“Saya juga mau, tapi jangan disini, Ma.. Bahaya,” ujarku.
“Ayo dong, Roy.. Mama sudah tidak tahan,” ujarnya lagi. Tangannya terus meremas kont*lku.
“Kita ke hotel yuk, Roy?” ajak mertuaku. Aku mengangguk.

Kemudian dengan alasan akan ke rumah temannya, mertuaku perempuanku meminta ijin pergi diantar olehku.

“Jangan lama-lama ngobrol disana, Ma.. Si Roy kan malam ini mau pulang. Kasihan nanti dia capek,” ujar mertua lelaki.
“Iya dong, Pa…” ujar mertua perempuanku.

Kemudian kami naik motor segera pergi mencari hotel. Setelah selesai registrasi, kami segera masuk ke kamar. Tanpa banyak cakap, mertuaku langsung memeluk dan menciumku dengan liar. Aku balas ciumannya..

“Cepat kita lakukan, Roy.. Waktu kita hanya sedikit,” ujar mertuaku sambil melucuti semua pakaiannya.

Aku juga demikian. Mertuaku langsung naik ke kasur, lalu aku menyusul. Tangan mertuaku langsung menggenggam kont*lku dan diarahkan ke mem*knya.

“Mama kok buru-buru sih?” tanyaku sambil tersenyum ketika kont*lku sudah masuk mem*knya. Lalu aku pompa kont*lku perlahan menikmati enaknya mem*k mertuaku.
“Habisnya mama sudah tidak tahan sejak tadi di rumah, pengen merasakan kont*l kamu lagi,” kata mertuaku sambil menggoyang pinggulnya mengimbangi gerakanku.

Selang beberapa belas menit tiba-tiba mertuaku mendekap aku erat sambil mengerakkan pinggulnya cepat. Kemudian.. “Ahh.. Mmhh.. Enak sayang…” desah mertuaku mencapai puncak orgasmenya.

Badannya melemas. Aku terus memompa kont*lku lebih cepat. Terasa lebih nikmat. Sampai beberapa lama kemudian aku tekan kont*lku ke lubang mem*k mertuaku dalam-dalam, dan.. Crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam mem*k mertuaku.

“Maaf, Ma.. Roy tidak bisa menahan.. Sehingga keluar di dalam,” ujarku sambil memeluk tubuh mertuaku.
“Tidak apa-apa, Roy,” jawab mertuaku.
“Mama sudah minum obat kok,” ujarnya lagi.
“Kalo mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?” tanya mertuaku.
“Bisa saja, Ma.. Kita jalan berdua saja dengan alasan pergi kemana…” jawabku. Mertuaku tersenyum.
“Kita pulang Roy,” ujar mertuaku.

Sesampai di rumah, aku langsung bersiap untuk pulang ke Bandung. Ketika aku memanaskan motorku, mertua perempuan mendekatiku. Sementara mertua lelaki duduk di beranda.

“Hati-hati di jalan ya, Roy,” ujar mertuaku.
“Iya, Ma. Terima kasih,” ujarku sambil tersenyum.
“Tengokin mama dong sesering mungkin, Roy,” ujar mertuaku sambil tersenyum penuh arti.
“Iya, Ma,” ujarku sambil tersenyum pula.

Lalu aku pulang. Sejak saat itu hingga kini aku selalu menyempatkan diri sebulan sekali untuk datang ke rumah mertuaku, tentu saja setelah aku di-SMS dahulu oleh mertua perempuanku.

Ini adalah kisah nyata kehidupan aku.





AKU & MAMI

20 02 2009

By Hacker | 20 februari 2009

Kenalkan namaku Andi aku tinggal di kota x di Prov x
Semua ini berawal dari 3 tahun yang lalu ketika itu aku masih sma.Hubungan ku dengan mamaku sangat baik dan bisa dikatakan cukup dekat.Tak jarang kami bermain seperti seorang kakak dan adik… atau teman sendiri.Papa sendiri jarang pulang ke rumah karena beliau kerja di sebuah perushaan asing yang jauh dari rumah.Memang semua itu bisa terjadi karena mamaku melahirkanku umur 18 tahun.Ya dia memilih kimpoi muda bersama papa yang kala itu sudah berkerja di perusahaan asing…Tak heran pasangan muda mudi ini diberi restu untuk menikah dan lahirlah aku.
Suatu malam sehabis pulang dari bimbingan belajar aku merasa sangat ngantuk.. jam didinding menunjuk ke angka 9.30.. cepat pula aku bergegas ke kamar..”ma aku pulang” kataku.. namun tak ku dengar balasan… tapi apa peduli ku mungkin dia sedang di toilet kataku… Tak lama kemudian ku dengar suara gaduh disebuah kamar…lalu aku menyadari bahwa kamar tersebut adalah kamar mamaku…Namun ini sudah malam aku pun malas.jadi kuputar tubuhku dan bergegas ke kamarku..
Kembali aku terbangun dari tidurku mendengar suara gaduh.Kali ini aku harus melihatnya… ketika ku intip di lubah pintu apa yang ku lihat tidak dapat dipercaya…mamaku sedang bermain dengan alat vibrator”hm…mm….mm…”kakinya menyeret nyeret kasur menahan sakitnya”…..mm…mm..”Terus Kupandangi namun apa yg kudengar selanjutnya tidak dapat ku percaya..”…ndi…mm…mm.. ndi terus…ah..”jantungku pun berdebar tidak menyangka apa yg kudengar.
Aku pun pergi ke kamar untuk menyembunyikan diriku dan tidur….
Jam 12 aku terbangun..sayup sayup ku dengar suara”ndi”…setelah mataku terbuka lebar ternyata itu mama”ada apa ma,malem2x begini”kulihat mama memakai daster yang sangat tipis,,,sampai sampai bh dan celana dalamnya dapat terlihat olehku..dan akupun masih bisa melihat celana dalamnya yang basah….”ndi … maafkan mama..”seketika itu pula mama mencium bibirku dan memainkan lidahnya”mmm…”kataku…lalu ku hentikan sebentar”ada apa ma?”aku bertanya selagi jantungku berdebar”ndi mama kesepian selama ini ayahmu tidak pernah ada di dekat mama,,,mama butuh,,seorang pria yg selalu ada di mama yaitu kamu ndi”aku tidak bisa berfikir apa apa”tapi ma..andi kan..”belum selesai aku menjawab mama kembali menciumku”semalam ini saja ndi…”kemudian setelah itu dia memelukku kurasakan hangatnya tubungnya …

Buah dadanya mengenai dadaku…”ma andi…kan…”aku ingin memastikan ada apa ini”ngga apa 2x ndi sekali ini saja…”kami pun melanjutkannya…dengan alami..kumasukan jari2xku ke daster mama untuk ku buka…”ah….”sahut mama… lalu kumasukan tangan lainnya ke dalam celana mama yang sudah basah…”ma maaf andi juga laki2x biasa andi ngga bisa tahan”kataku dengan perasaan bersalah”ndi ngga apa2x mama bisa memakluminya,mama juga membutuhkannya ayo teruskan”kumasukan jari ku ke dalam vagina mama yang hangat,, inilah tempat ku pernah dilahirkan tidak kusangka begtitu indah dan nikmatnya”ah…ah…”mama tak kuasa menahan gerakan tanganku di alat vitalnya.. lalu ku cium buah dadanya kemudian ku hisap putingnya”ndi ayo ndi … ah…. isep aja…mama masih pengen kamu menyusu ke mama kaya waktu dulu…ah…”kami pun melakukannya selama mungkin… kira2x setelah 15 menit berlalu gejolak gairah tidak bisa kami tahan…”ma andi pengen..”kataku”stt… sudah mama sudah tau kok.. ayo andi masukin aja..”lalu ketika ku keluarkan alat vitalku mama langsung memerah begitu juga dengan alat vitalnya…lalu ku masukan secara perlahan….”hmmm….m…mmm..”mama menahan rasa sakit”ah…ndi mama ngga nyangka ukuran nya… ah…mm… cukup buat… mmm.. mama…ah…”akhirnya aku sampai pada ujungnya,dan kamipun berhenti sejenak..”ndi selamat datang lagi di tubuh mama”aku rasakan ada tembok diujungnya”ayo andi gerak sama2x…perlahan ya ndi…”kata mama menuntunku”iya ma..”Kami duduku berhadapan mama diatas ku dan aku dibawahnya,buah dadanya tepat berada di depan mataku…,, sedikit ku goyangkan “ah…andi…ah…”desah mama”ma…ma..ah…”kata ku kami pun bergerak perlahan dengan perlahan…
secara perlahan aku meraba ke pantat mamaku..”hmmm..mmm..”mama yang masih menahan sakitnya gerakan ku..
akhirnya tanganku mencapai pantatmama lalu giliranku yang mengatur tempo dengan tanganku..”ahh…ah…”mama sudah tidak bisa menahan lagi teriakannya..
lalu ku percepat tempo gerakanya”ahh… andi…ah.. mama satik ndi..”kata mama padaku”mama andi juga maa..”balasku
“ayo ndi cium lagi mama ah…”lalu mama mencium ku lagi”ah…ah..”teriak mama seraya melepaskan ciumanku..lalu terlihat
cairan keluar dari kedua mulut kami… membasahi tubuh kami”ah..ah..”teriakan mama sangat keras begitujuga denganku”maa…maa…..”…
tangan mamapun merangkul ku dan memegang erat tubuhku”ndi suka ngga…ah…dengan mama..”tanya mama”iya mahandi suka…”balasku lagi
lalu mama menyuruhku untuk pindah”ndi coba sekarang angkat mama,,,ah…tapi jangan andi lepas ya..ah..”tanpa basa basi lagi aku pun mengangkat tubuh mama yang besar dengan
sekuat tenagaku,, dan aku pun berdiri dengan menahan mama yang masih tetap menyatu dengan ku”ahh.. sekarang coba andi duduk di ruang tamu..mmm..”lalu aku pun berjalan dengan tetap
menggedong mamaku yang tetap menempel padaku,,aku melangkah dengan hati2x sedikit demi sedikit…buah dadanya semakin rapat ke arahku..
dan mama masih tetap menggerakan tubuhnya…”ah..ah..”lalu akupun berhasil mencapai ruang tengah..”di kursi yang mana ma?”diriku sudah tidak kuat lagi menahan berat badan mama
“yang itu ndi yang kecil..jangan di sofa..ah..ah..andi duduk di sana ya ndi..ahh..”mama memilih bangku kecil yang hanya muat untuk satu orang dan aku pun duduk disana “ahh…ah…”teriakan mama semakin keras mungkin sudah hampir mencapai orgasmenya”maa.. andi udah mau keluar maa..”
“ndi mama juga ah…”lalu kurasakan aliran yang menjalar ke seluruh tubuhku”maaa andi mau keluar maa..ah..”sahutku”ndi ayo cpet keluarin ndi.. mama juga udah mau ah..”seketika itu aku berusaha untuk menarik mama keluar
tak disangka bangku yang kami pakai bergoyang dan mengakibatkan kami hilang keseimbangan”ah… ayo ndi cpet..ah.. andi.. andi..”kami pun jatuh ke karpet empuk,,, dengan posisi mamaku dibawah dan aku diatasnya”aahh…ah..”kataku”hmmm andi ndii..”akat mamaku
ketika jatuh penisku menusuk dalam ke bagian tubuh mama… dan kusadari bahwa itu adalah bagian dari rahim mama,,, “ahh…………ahhh….”aku pun mengeluarkan bibit bibit bayi ku di dalam rahim mama yang sangat dalam”ahh… andii… apa yang kamu lakukan ndii ah..”
seketika itu pula mama mengeluarkan orgasmenya,,, telur2x mama keluar dengan banyaknya tiada henti begitu pula dengan sperma ku…”ahhh….ah….”aku terus mengeluarkan cairan hormonku kedalam mama begitu juga mama”ahh……”
dan kami pun berhenti berteriakk.. lalu kusadari bahwa penisku berhenti orgasme setelah 1 menit kemudian “hah hah hah”desahan nafasku”hmmm..”dan mama memejamkan mata,, (posisi kami masih menyatu)
“ma maaf andi tadi hilang keseimbangan ma…”kataku dengan perasaan bersalah”ngga apa apa ndi..”balas mama yg masih terlihat cape (tapi ma tadi andi ngeluarinnya di dalam.. andi takut bersalah ma.. andi takut..”kataku
“andi ngga perlu takut kok..”kata mama”nanti kalo mama hamil apa kata orang,, tadi andi ngeluarinnya di rahim mama”kataku kembali”ngga apa2x ndi kalo mama hamil mama seneng… sebenernya mama pengen punya anak lagi ndi.. tapi dair siapa
papa jarang pulang,, mama cuma bisa berharap ke kamu ndi”aku pun terdiam”jadi andi mau bantu mama hamilkan??”tanya mama”iya andi coba ma..”

setelah itu kami pun melakukannya dengan sering sehari sampai 4 kali bahkan lebih… mama tidak memakai baju didalam rumah agar aku dapat melakukannya kapan saja… kadang ketika mama sedang masak aku lakukan,, ketika sedang makan pun tak jarang posisi kami menyatu..
ketika mandi kami selalu melakukannya di bathhun “ma ini yang keberapa ya ma?”….”ini yang ke 27 kali ndi ayo terus kasih bibit andi lagi ke mama..”….”iya ma…”…..
bahkan ketika tidur kami tetap dalam keadaan menyatu hingga ke sekokan harinya…dan ke esokan harinya cairan sudah mengering di masing2x alat vital kami…
beberapa minggu kemudian setelah kami melakukannya selama 1 bulan mengatakan padaku”ndi kamu akan jadi kakak dan ayah ndi…”setelah itu kami pun tersenyum satu sama lain

beberapa bulan kemudian perut mama semakin membesar dengan bayiku didalamnya.. dan papa belum tahu akan hal ini.. walaupun perut mama yang semakin besar karena kata dokter anaknya adalah kembar,tidak menyurutkan niat kami untuk tetap bercinta”ah…ayo ndi…ahh…”mama semakin bergairah dengan 2 bayiku didalam
perutnya “maa mama kelihatanya semakin bergairah sejak mama hamil ma? ah….”tanyaku”iya ndi mama semakin bergairah..sejak mama mengandung bayi andi…ahh..” tidak hanya itu buah dadanya pun ikut membesar karena susunya mulai terisi..”ma boleh andi nyusu ma?”aku memintanya karena tidak tahan melihat
puting yang penuh dengan susu bergoyang kesana kemari…”ahh.. hmm.. iya … ndii.. ah,.,boleh”aku pun menghisap manisnya susumama,, sambil memegang perut mama yang besar,bulu2x mamapun mengeluarkan cairan,, seperti diketiaknya lalu kujilati ketiaknya”hmmm… ah…”tahan mama dengan gairah yang amat sangat
“ndi mama mau keluar ndi…”teriak mama”ma andi juga ma… andi udah ngga tahan…ah…”lalu kami pun mengeluarkan cairan reproduksi kami bersamaan.. meskipun hamil mama tetap selalu bergairah…

syukurlah beberapa bulan kemudian mama melahirkan bayi sepasang bayi kembar yang sehat…”ndi mama pengen punya anak lagi ndi…”kata mama setelah melihatku menggendong bayi..

setelah itu papa mengetahui hubungan kami dan memutuskan untuk pergi… setelah itu aku dan mama hidup berdua kami tetap melakukan hubungan intim… mamaku selalu terus menginginkan anak…

selama bertahun2x kami pun melakukan hal tersebut dan memiliki belasan anak… dan mama selalu bahagia





AKU DAN MAMAKU

20 02 2009

By Hacker | 20 Januari 2009

Pagi itu aku pulang sekolah lebih awal, karena memang minggu ini kami menjalani ujian semester 2 untuk kenaikan kelas 3 SMU. Sesampai dirumah nampak sebuah mobil sedan putih parkir didepan rumah. Siapa ya ? dalam hatiku bertanya.
Padahal mama hari ini jadwalnya tennis. Untuk menghilangkan penasaranku segera kumasuki rumah. Ternyata di ruang tamu ada mama yang sedang berbincang dengan tamunya. Mama masih menggunakan pakaian olah raganya, sedangkan tamu itu masih berpakaian kerja dan berdasi.
“Sudah pulang sekolahnya ya sayang” Tanya mama padaku.
“Oh iya, ini perkenalkan om Ari relasi bisnis papamu, kebetulan pulang tennis tadi ketemu, jadi mama diantar pulang sekalian”. Kami saling berjabat tangan untuk berkenalan. Mereka kutinggalkan masuk kekamarku untuk berganti baju seragam sekolah.

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku perempuan melanjutkan sekolah SMU-nya di kota “M” dan tingalnya indekost disana. Alasannya karena mutu sekolahnya lebih baik dari yang ada dikotaku ( padahal daripada tidak naik kelas dan jadi satu kelas denganku ). Jadi tinggal aku sendirian yg menemani mamaku, karena papa sering pergi ke luar kota untuk melakukan kegiatan bisnisnya.
“Indra, tolong kesini sebentar sayang.” tiba-tiba terdengar suara mama memanggilku. “Ya ma !” aku segera beranjak untuk menemui mama di ruang tamu.
“Om Ari mau minta tolong di belikan rokok ke warung sayang” pinta mama. Aku segera mengambil uang dan beranjak pergi ke warung untuk beli rokok. Sepulangnya dari warung tidak kutemui mama maupun om Ari di ruang tamu, padahal mobil om Ari masih parkir di depan rumah. Rokok kuletakkan di meja tamu lalu kutinggalkan kembali ke kamarku.

Melewati kamar mama nampak pintu sedikit terbuka. Dengan rasa penasaran kuintip melalui celah pintu yang terbuka tadi. Didalam kamar nampak pemandangan yang membuat jantungku berdegup kencang dan membuatku sering menelan ludah. Nampak mama yang telanjang bulat tidur di atas ranjang dengan om ari menindih dan mengulum payudara mama tanpa menggunakan celana lagi. Dengan gerakan teratur naik turun menyetubuhi mamaku. Sambil mengerang dan meggeleng ke kiri dan kekanan, nampak mamaku menikmati puncak dari birahinya. Tak lama kemudian nampak om Ari mengejang dan rubuh diatas pelukan mama. Mungkin sudah mengalami orgasme. Tanpa sengaja dengan wajah kelelahan mama melihat kearah pintu tempat aku mengintip dan mebiarkan aku berlalu untuk kembali ke kamarku.

Sesampainya di dalam kamar pikiranku berkecamuk membayangkan pemandangan yang baru kulihat tadi. Takterasa tanganku melakukan aktifitas di penisku hingga mengeluarkan cairan yang membuatku merasakan kenikmatan sampai aku tertidur dengan pulas.

Malam harinya aku belajar untuk persiapan ujian besok pagi. Tiba tiba pintu kamar terbuka.
“Sedang belajar ya sayang” nampak mama masuk kekamarku menggunakan daster tidur.
“Iya ma, untuk persiapan ujian besok pagi” mamaku duduk di ranjangku yang letaknya dibelakang meja belajarku.
“Kamu marah sama mama ya ?” tiba tiba mama memecahkan keheningan.
“Kenapa harus marah ma ?” tanyaku heran.
“Karena kamu sudah melihat apa yang mama lakukan dengan om ari siang tadi”.
“Enggak ma, memangnya om Ari telah menyakiti mama ?” aku balik bertanya.
“Enggak, malah om Ari telah memberikan apa yang selama ini tidak mama dapatkan dari papamu. Papamu kan sering keluar kota, bahkan mama dengar papamu punya istri muda lagi.”
“Kenapa mama diam saja ?” tayaku.
“Yang penting bagi mama segala keperluan kita terpenuhi, mama tidak akan mempermasalahkan itu.”
“Kamu mau membantu mama sayang ?” tiba tiba mama memelukku dari belakang. Dapat kurasakan payudaranya yang ukurannya sedang menempel di punggungku.
“Menolong apa ma ?” jawabku dengan suara bergetar dan sesekali menelan ludah.
“Memberikan apa yang selama ini tidak mama dapatkan dari papamu.”
“Tapi, aku kan anakmu?”
“Kamu kan laki-laki juga, jadi kalau kita sedang melakukannya jangan berpikir kalau kita ini adalah ibu dan anak.” sambil berkata begitu tiba tiba mamaku sudah memegang batang penisku yang sudah menegang dari tadi.
“Wow, ternyata punyamu besar juga ya” goda mamaku, aku jadi tersipu malu.

Tiba tiba mamaku mengeluarkan penisku dari celana pendek yang kupakai, kepalanya mendekati penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sambil mengocok ngocok dan memainkan lidahnya di ujung penisku. Kurasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan, tiba tiba “crot…crot. .” keluar cairan kenikmatan yang langsung ditampung mulut mama.

“Yah, sudah keluar deh, padahal mama belum kebagian” kata mamaku sambil menelan cairan sperma yang ada dalam mulutnya. Aku jadi malu sendiri, maklum yang pertama kali kulakukan.
“Pindah ke ranjang yuk” ajak mamaku sambil berdiri menuju ranjangku. Aku ngikut aja bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Mamaku tidur terlentang diatas ranjang masih menggunakan dasternya. Ketika kakinya diangkat agak ditekuk tampak mem*k mamaku yang dikelilingi bulu halus itu terbuka. Ternyata mamaku tidak memakai celana dalam dibalik dasternya. Membuat dadaku jadi berdebar debar melihat pemandangan yang indah itu.
“Ayo kesini!” kata mamaku sambil menarik turun celana kolor yang aku pakai. Dasar si kecilku nggak bisa melihat barang aneh, langsung terbangun lagi.
“Nah, itu sudah bangun lagi.” seru mamaku. Kudekati bagian pangkal paha mamaku, tercium olehku aroma yang keluar dari mem*k mamaku yang membuaku makin terangsang. Sambil perlahan kusibak belahan lobang kenikmatan yang didalamnya berwarna merah jambu itu. Kujilat cairan yang keluar dari dalamnya, nikmat rasanya.

“Teruskan indra, jilati bagian itu” lenguh mamaku yang merasakan kenikmatan. Kujilat dan terus kuhisap cairan yang keluar sampai tak bersisa. Setelah sekian lama bermain didaerah vagina mamaku, kuangkat kepalaku dari jepitan paha mamaku. Kulihat mamaku sudah tergolek tanpa selembar benangpun yang menutupi tubuhnya. Mungkin waktu asyik bermain dibawah tadi, mamaku mulepaskan daster yang dikenakannya. Kubuka kaos yang sedang kupakai, sehingga kami sama-sama dalam keadaan telanjang bulat. Kudekati tubuh mamaku sambil perlahan lahan kutindih sambil menghujani ciuman ke bibir mamaku. Kami berciuman sambil memainkan payudara mamaku, kuremas remas dan kupuntir puting payudara yang dulu menjadi sumber makananku pada waktu masih bayi. Tangan mamaku sudah memegang batang penisku dan dibimbingnya kearah lobang kenikmatannya yang sudah basah.
“Tekan sayang…” pinta mamaku. Dengan ragu-ragu kutekan penisku dan bless menancap masuk ke lobang vagina mamaku yang sudah licin.

Oh..nikmatnya, sambil kutarik keluar masuk kedalam lobang kenikmatan itu. Desahan napas mamaku semakin membuat aku terpacu untuk mempercepat irama pemompaan batang penisku kedalam lobang kenikmatan mamaku. Tak lama kemudian…
“Oh, aku sudah sampai sayang, kamu benar benar hebat”.

Terasa lobang kenikmatan mamaku bertambah basah oleh cairan yang keluar dari dalam dan menimbulkan bunyi yang khas seirama keluar masuknya batang penisku. Tiba-tiba mama mencabut batang penisku, padahal sedang keras-kerasnya.
“Sebentar ya sayang, biar ku lap dulu lobangya, sambil kita rubah posisi.”

Disuruhya aku telentang dengan batang penis yang tegak hampir menyentuh pusarku. Mamaku jongkok tepat diatas batang penisku. Sambil membimbing batang penisku memasuki lobang kenikmatan yang sudah mongering karena di lap dengan ujung kain daster, ditekannya pantat mamaku hingga bless, kembali si kecilku memasuki goa kenikmatan mamaku, meskipun agak seret tapi rasanya lebih enak, sambil perlahan lahan diangkatnya naik turun pantat mamaku, yang membuat aku jadi tambah merem melek. Lama kelamaan jadi tambah licin dan membuat semakin lancarnya batang penisku untuk keluar masuk. Semakin cepat irama naik turunya pantat mamaku, tiba tiba tanganya mencengkeram kuat dadaku dan…

“Aku sudah sampai lagi sayang” desah mamaku. Tubuhnya melemah dan menghentikan irama naik turun pantatnya. Tubuhnya mengelosor telentang disampingku, dan membiarkan batang penisku masih tegak berdiri. ” Aku sudah tidak sanggup lagi sayang, terseah mau kamu apain saja ” kata mamaku pelan. Aku hadapkan mamaku kekiri, sambil kuangkat kaki kanannya hingga nampak tonjolan lobang vaginanya mulai terbuka. Kumasukkan batang penisku lewat belakang sambil perlahan lahan ku pompa keluar masuk kedalamnya. Irama pemompaanku makin lama makin kupercepat sampai akhirnya tubuhku mengejang hendak mengeluarkan peluru cairan dari lobang penisku, dan crot…crot…crot muntahlah lahar dari lobang penisku. Bersamaan dengan itu mamaku mengerang lemah ” Oh sayang, aku keluar lagi “. Batang peniskupun melemah, dan keluar dengan sendirinya dari lobang petualangan. Kamipun tertidur pulas dalam keadan telanjang bulat sambil berpelukan ( kaya telletubis aja ).

Pagi harinya aku terbangun dengan keadaan segar, mamaku sudah tidak ada disampingku. Ku ambil handuk dan kulilitkan menutupi kemaluanku menuju ke kamar mandi. Di ruang makan aku berpapasan dengan mama yang sudah segar bugar habis mandi. Kudekati mamaku dan kucium pipinya dengan mesra, aroma sabun mandi tercium dari tubuh mamaku. ” Semalam kamu hebat sayang, untuk itu mama siapkan telor setengah matang dan susu hangat untuk memulihkan lagi staminamu ” bisik mamaku lembut. Sambil duduk dengan hanya dililit oleh handuk kuminum susu hangat dan kumakan dua butir telur setengah matang dengan kububuhi merica bubuk dan garam. Mamaku mendampingiku berdiri disampingku, karena tercium aroma segar sabun mandi membuat birahiku jadi naik. Perlahan lahan batang penisku berdiri menyibak lilitan handuk yang menutupinya. Mamaku terseyum melihat kejadian itu, sambil dipegangnya batang penisku berbisik ” Nanti siang aja sepulang kamu dari sekolah kita lakukan lagi “. Dengan kecewa aku beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap siap ujian semester di hari terakhir. Tak sabar rasanya untuk segera menyelesaikan ujian hari ini, agar bisa berpetualang penuh kenikmatan.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.